Sabtu, 24 Maret 2012

KASIH TAK SAMPAI 1. Ilmu Laduni (bag.1)


KASIH TAK SAMPAI
1.                                                                   
Malam itu di pantai utara Pesantren Al - Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah terang benderang. Cahaya rembulan purnama menyinari pasir pantai dan air samudera yang luas. Tampak gemerlapan hamparan butir – butir pasir  dipesisir. Indah dipandang. Tampak gelombang landai pantai nan luas itu menggoda pula.
Tetapai malam itu tidak tampak perahu nelayan yang turun ke laut mencari ikan. Maklum bulan lagi terang. Tidak ada ikan di laut. Hanya tampak ditepi pantai puluhan orang dan santri. Ada yang hanya hilir mudik. Ada pula yang lagi mengail ikan dari tepian laut. Mereka sesekali melempar mata kailnya kearah tengah laut. Namun sekuat – kuat mereka melempar hanya sanggup sampai sekitar 30 meter dari bibir laut.
Beberapa saat kail di lempar, tidak lama kemudian ditarik kembali. Kadang dapat ikan. Namun lebih sering tidak mendapat. Hanya umpannya yang sering habis. Kalaupun mereka dapat, ikan ketinglah yang sering kena mata kail. Ketika mata kailnya menyangkut ikan mereka teriak “Al - Hamdulillah”. Walaupun teriak keras, suara mereka tidak terdengar. Karena tertelan suara gemuruhnya ombak lautan.
Bagi santri dapat ikan ketingpun sudah cukup menyenangkan. Karena bisa untuk lauk makan malam. Atau untuk makan sakhur di malam Senin dan malam Kamis.
Dari sekian puluh santri yang kelaut itu ada pula beberapa santri yang tidak mancing. Ada yang hanya sekedar jalan – jalan menikmati indahnya laut dibulan purnama. Menghilangkan rasa lelah belajar. Ada pula yang menghilangkan rasa stres. Ada pula yang punya tujuan lain yang mulia. Menghafalkan pelajaran agama dan pelajaran sekolah umum.
Salah satu santri yang punya tujuan lain itu adalah seorang santri yang bernama Romi. Ia putra Kyai Roziq Desa Belik Anget Kecamatan Tambak Boyo Kabupaten Tuban.
Romi termasuk santri yang sangat rajin, tekun, pendiam,  cerdas, ta’at peraturan. Ia sangat tawadlu’ terhadap semua kawan dan ustadznya. Sehingga semua kawan dan ustadznya simpati terhadapnya.
Postur tubuh Romi termasuk ideal. Ia seperti abahnya. Tinggi, atletis, dan berisi. Hidungnya mancung.  Suaranya halus dan mantap. Matanya cekung , dan  pandangannya tajam. Dadanya bidang. Di atas bibirnya yang merah terhiasi kumis yang masih tipis. Walaupun tidak terlalu tampan, tapi setiap wanita yang memandang mesti simpati dan akhirnya jatuh cinta.
Hampir setiap malam Romi ketepi pantai. Ia membawa tikar, bantal kecil, sebuah lampu sentir, dan beberapa kitab serta sebuah curigen berisi air bersih. Sampai dipantai ia biasa menuju sebuah bangunan tua semacam pos kampling. Menggelar tikar, menaruh bantal dan menyalakan lampu sentir didalam bangunan tua tersebut. Setelah lampu sentir menyala ia membuka kitab dan mempelajarinya sampai tengah malam tiba. Ketika malam telah melampaui puncaknya ia mengambil curigen berisi air. Ia membawanya ke pojok bangunan tua itu. Lantas membuka tutup curigen tersebut. Ia menuangkan air dalam curigen tersebut sedikit demi sedikit keanggota wudlunya. Selesai wudlu’ mematikan lampu sentir itu dan mulailah ia sholat malam. Ia sholat malam tiada terhitung lagi jumlah roka’atnya. Lelah sholat malam ia duduk berdzikir. Sering tertidur sambil duduk dzikir itu, sampai fajar tiba. Begitulah hampir setiap malam hari Romi ketepi laut hanya untuk suatu tujuan mulia. Belajar dan belajar.
Maka ia terkenal santri paling pintar di kelasnya. Dan ia selalu mendapatkan rangking satu dikelasnya. Maka banyak kawannya yang kagum. Bahkan tidak sedikit yang ngiri. Banyak pula santri putri yang mendengar tentang kepandaian santri Romi ini. Santri putri penasaran terhadap sebuah nama “Romi”. Sebuah nama yang melegenda dipesantren itu.  
____________________
Insyaalloh bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!