Selasa, 27 Maret 2012

KASIH TAK SAMPAI 1. Ilmu Laduni (bag.4)


Ustadz Zain heran, melihat tingkah santrinya yang satu ini. Kenapa harus keluar kamar kalau hanya sekedar mau menerangkan tentang cara belajarnya. Kenapa mesti memabawa tikar dan bantal. Namun ia hanya bisa mengikuti langkah – langkah santri yang di kaguminya itu dengan penuh tanda tanya.
Sampai di tempat yang agak sepi Romi menghentikan langkahnya. Ia menaruh tikar ditempat yang bersih dan kering. Lantas ia membuka tikarnya. Setelah tikar terbuka tampaklah beberapa kitab yang tadi dalam lipatan tikar tersebut.


“Mari Tuan Ustadz duduk disini saja! Biar aku terangkan disini.” Pinta Romi.

“Kita duduk disini ? Di tempat yang sepi ini ?”

“Betul ustadz. Silahkan duduk ! Segera akan aku terangkan cara belajar ku ustadz.”

“Aneh sekali kamu ini. Mengapa kitab – kitab ini kamu taruh dalam tikar? Mengapa tikar itu kamu taruh dibawah ? Itu tidak menghormati ilmu Romi. Bisa jadi ilmumu tidak bermanfaat Romi.”

“Maaf ustadz ! Sekarang ustadz sudah tahu sendiri kan, kalau aku banyak dosa. Menaruh kitab – kitab tidak pada tempatnya. Aku sudah dholim ustadz. Maka tentu tidak mungkin mendapatkan Ilmu Laduni seperti yang ustadz tuturkan. Tapi aku menaruh kitab – kitab itu dalam tikar hanya ingin mengelabui kawan – kawan sekamar. Agar mereka tidak tahu kalau aku keluar membawa tikar yang terdapat kitab didalamnya. Perbuatanku ini juga dosa ustadz. Karena telah mengelabui santri yang lain. Tetapi begitulah ustadz setiap hari selama dipesantren ini ustadz. Maafkan ustadz kalau aku telah banyak melakukan maksiyat.”

Beberapa saat Ustadz Zain tidak bicara lagi. Beliau duduk berhadapan dengan Romi. Beliau memandang kearah beberapa kitab yang ada dihamparan tikar itu. Ia heran. Mau menerangkan cara belajar saja diajak keluar. Ia heran santrinya yang satu ini menyimpan kitab – kitabnya didalam tikar. Yang ia ketahui selama ini santri – santri menyimpan kitab di rak kitab atau di lemari.

“Sudahlah tidak perlu berdebat lagi, silahkan segera terangkan bagaimana cara belajarmu !” Pinta Ustadz Zain.

“Baiklah ustadz. Setiap hari pulang dari sekolah aku selalu menaruh kitab – kitab ini didalam tikar. Setelah malam hari dan sunyi, kawan – kawan asyik bercanda aku pergi keluar kamar menuju suatu tempat yang sunyi dan sepi. Suatu tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia dimalam hari. Aku keluar kamar selalu membawa tikar dan bantal seperti ini ustadz. Aku belajar di suatu tempat yang sunyi dan sepi itu sendirian ustadz. Setelah tengah malam aku berhenti belajar. Di saat orang – orang terlelap tidur dengan dibuai mimpi – mimpi indah, sementara itu aku terpesona dan menikmati berdialog dengan Alloh yang Maha Segala. Aku berdialog dengan – Nya dalam roka’at – roka’at sholat malam ustadz. Pertama aku memohon agar ilmuku bermanfaat, kemudian aku mendoakan kedua abah dan umiku. Selanjutnya aku memohonkan ampun untuk para ustadzku dan orang muslim semuanya. Dan aku tutup dengan mohon kepada Alloh agar aku diberi calon isteri yang sholihah lahir batin ustadz. Isteri yang bisa diajak berjuang bersama mengarungi bahtera keluarga ustadz.”

“Dan setiap selesai sholat wajib aku juga berdo’a demikian itu. Setelah selesai doa itu aku membuka memori ingatanku  tentang ilmu – ilmu yang telah aku pejari ustadz. Berkali – kalia apa yang telah aku ketahui itu aku ingat – ingat lagi setelah selesai sholat itu. Terutama bab – bab yang baru kami pelajari. Begitulah ustadz apa yang aku lakukan sehari – hari. Aku belajar dan belajar tiada henti.” Sambung Romi.

Mendengar uraian Romi itu Ustadz Zain tidak percaya begitu saja. Ia hanya percaya bahwa santrinya yang cerdas itu mempunyai Ilmu Laduni. Ia tetap beranggapan bahwa Romi pandai karena berkah doa abah dan uminya. Maka ia ingin mengkorek lebih jauh lagi.

“Bolehkan aku tahu dimana tempat yang biasa kamu jadikan untuk belajar ?”

“Mohon maaf ustadz ! Demi ketenangan belajarku setiap malam aku tidak siap untuk memberi tahukan tempat belajarku setiap malam itu.”

“Kalau begitu aku tidak percaya terhadap apa yang kamu sampaikan itu. Aku masih punya anggapan bahwa kamu pandai karena berkah doa abah dan ummimu.”     

Romi tidak menjawab sanggahan ustadz yang dihormatinya itu. Ia hanya menengok kelangit yang maha luas. Ia memandang berjuta – juta bintang dialngit. Ia seakan bertanya kepada bintang – bintang untuk menjawab sanggahan ustadznya itu. Tetapi bintang – bintang itu hanya berkedap – kedip saja. Mereka tidak memberikan apa – apa. Kecuali hanya memberikan berjuta kedip yang indah.

Namun dari melihat bintang – bintang itu ia bisa mengambil suatu isyarat, bahwa berjuta manusia tidak ada yang sama persis. Mesti ada saja perberbedaan antara yang satu dengan lainnya. Berpuluh ustadz dipesantren tidak ada yang sama. Masing – masing mereka mempunyai charisma sendiri. 

“Betul ustadz. Aku memang merasakan berkah doa dari abah dan ummiku. Tanpa ridlo mereka tentu aku tidak akan betah belajar disini. Tanpa do’a mereka aku tidak akan sanggup betah belajar setiap malam. Tanpa pertolongan Alloh aku juga tidak akan sanggup beribadah mencari ilmu. Ilmu Laduni yang aku dapatkan sebenarnya dari para asatidz. Salah seorang ustadz yang memberikan Ilmu Laduni itu adalah Ustadz Zain.”

“Hah… Apa ? Aku telah memberikan Ilmu Laduni kepadamu ?”

“Betul ustadz. Engkau telah memberikannya kepadaku. Demikian juga ustadz – ustadz yang lain telah pula memberikan ilmu itu kepadaku juga. Jadi Ilmu Laduni yang aku punyai berasal dari beberapa ustadz. ”

“Apa itu ?”

“Beberapa Ilmu Laduni itu diantaranya adalah :

1.      Ustadz Zain pernah memberikan beberapa Ilmu Laduni. Salah satunya adalah من جد وجد    (man jadda wajada) barang siapa yang sungguh – sungguh maka akan mendapatkannya. Itulah ustadz Ilmu Laduni yang aku dapatkan dari ustadz. 

2.      Dari guru yang lain memberikan Ilmu Laduni berupa الاجر بقدرالتعب (al –ajru biqodrit ta’ab).  Fahala itu diukur dengan kecapeannya. Atau upah itu di berikan diukur dengan kelelahannya. Artinya barang siapa yeng bekerja akan mendapatkan upah sesuai dengan tenaga yang ia keluarkan. Siapa yang belajar tekun insyaalloh mesti mendapatkan ilmu. Siapa yang tidak mau belajar tentu tidak akan mendapat ilmu.

3.      Dan Ilmu Laduni yang aku peroleh dari Ustadz Roja’i guru bahsa Inggris adalah “If you work in earnest, you will be succed”.  Jika anda bekerja dengan kesungguhan, tentu anda aka berhasil. Maka tidak akan mendapatkan ilmu kecuali hanya harus dengan belajar dan belajar dengan giat dan disertai dengan do’a. Karena yang punya ilmu itu Alloh.” 

4.      Guru yang lain memberikan ilmu Laduni berupa where there is a will there is away. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Barang siapa yang ada kemauan untuk bisa disitu ada jalan untuk bisa itu, yaitu dengan belajar giat, dengan niat yang baik serta berdo’a insyaalloh akan mendapatkan ilmu.” Terang Romi.

5.      Ustadz yang lain lagi memberikan Ilmu Laduni kepadaku berupa “pemuda yang luar biasa, adalah pemuda yang mengerjakan hal – hal yang tidak biasa – biasa saja”. Barang siapa yang ingin menjadi luar biasa (hebat) tentu harus belajar lebih giat dibanding dengan yang lainnya. Kalau belajarnya sama dengan kawan – kawan yang lainnya maka hasilnya akan sama juga dengan kawan – kawannya itu. Tidak ada kelebihan sama sekali. Pemuda yang hebat tentu tidak demikian. Pemuda yang hebat diketika kawannya gurau ia akan merenung. Ketika kawannya tidur ia belajar. Dikala kawannya bermimpi ia sholat malam. Ketika kawannya pesta pora disiang hari ia puasa. Diketika libur kawannya pergi ketempat – tempat rekreasi ia pergi ketempat para alim dan ulama untuk mereguk ilmu dari mereka.

Bukankah begitu Ilmu Laduni ustadz ?” 

“He he he. Tampaknya kamu pandai pula bersilat lidah. Pandai pula berdalih. Pandai pula menutupi kelebihanmu hal yang irrasional itu dengan hal – hal yang rasional. Tetapi aku tetap tidak percaya sebelum aku tahu sendiri dengan mata kepala sendiri dimana tempat belajarmu setiap malam.”
________________________
Insyaalloh bersambung

1 komentar:

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!