Selasa, 27 Maret 2012

KASIH TAK SAMPAI 1. Ilmu Laduni (bag.5)


“He he he. Tampaknya kamu pandai pula bersilat lidah. Pandai pula berdalih. Pandai pula menutupi kelebihanmu hal yang irrasional itu dengan hal – hal yang rasional. Tetapi aku tetap tidak percaya sebelum aku tahu sendiri dengan mata kepala sendiri dimana tempat belajarmu setiap malam.”


“Maaf ustadz ! Aku hanya percaya bahwa Ilmu Laduni itu sekarang sudah tidak ada lagi ustadz. Bagiku siapa yang ingin bisa mesti belajar dengan giat. Bagi siapa yang ingin bisa tidak mau belajar dengan giat, maka bagaikan menanti adanya hujan keatas. Alias hal yang mustahil terjadi. Maaf Ustadz, kalau bersilat lidah aku tidak pandai. Aku lebih fasih bersilat benaran. Bukan bersilat lidah. Dan aku lebih suka bersilat sungguhan dari pada bersilat lidah. Ustadz memang pintar. Pintar juga memancing agar aku membuka tempat belajarku yang rahasia itu. Ingat ustadz ! Insyaalloh aku tidak akan membuka rahasia ini sampai suatu saat yang memungkinkan. Saat ini belum memungkinkan ustadz.”

“Hem… Aku semakin curiga. Dengan tidak mau menunjukkan tempat belajarmu setiap malam itu, berarti kamu memang benar – benar mempunyai Ilmu Laduni. Karena memang tidak ada tempat yang kamu tempati belajar setiap malam itu. Alasanmu itu menunjukkan bahwa kamu akan segera mencari tempat yang pantas untuk belajar lebih dulu. Setelah mendapatkan tempat yang layak baru kemudian kamu akan menunjukkan kepadaku. Bukankah begitu Romi ?”

Romi menundukan kepala, diam sejenak. Ia tidak pernah menyangka keterangan – keterangannya selalu dimentahkan oleh ustadznya. Ia heran kepada ustadznya. Kenapa begitu yakinnya Ustadz Zain akan Ilmu Laduni. Padahal Romi sendiri tidak begitu yakin terhadap ilmu itu. Baginya Ilmu Laduni tidak lebih ilmu yang ada dalam cerita saja. Baginya Ilmu Laduni adalah ilmu yang didapat karena menempuh cara – cara yang layak. Belajar giat, niat yang benar, dengan waktu yang cukup panjang , dan berdo’a. Dengan cara – cara itu siapapun layak mendapat Ilmu Laduni

“Ustadzku, rasanya tidak ada gunanya berdebat panjang – lebar hanya tentang hal yang seremeh ini. Sekarang marilah kita pergi kesuatu tempat yang biasa aku buat untuk belajar hampir setiap malam.” Ajak Romi.

“Syukron atas kesediannya menunjukkan tempat belajarmu setiap malam.” Jawab Ustadz Zain.

Ustadz Zain berdiri dan turun dari tikar yang selama berdebat didudukinya. Demikian juga Romi. Lantas Romi menggulung tikar itu. Selesai menggulung tikar itu Romi mengepitnya. Kemudian ia berjalan menuju ke pesantrennya kembali. Ustadz Zain mengikuti dibelakang santrinya itu tanpa bertanya lagi

Sampai di asrama Romi masuk kedalam kamarnya sebentar. Ia mengambil sebuah curigen dan sebuah lampu sentir. Sedang Ustadz Zain menunggu diluar kamar. Setelah itu Romi keluar kamar menuju kran air. Ia mengisi curigen itu dengan air kran tersebut. Lantas ia berjalan menuju Ustadz Zain.

Romi mengajak ustadznya itu pergi menuju pantai. Mereka berjalan pelan – pelan beriringan tanpa berbicara lagi. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk membersihkan sandal dari pasir yang naik kesandal mereka.
Sekitar lima belas menit kemudian mereka berdua sampai di tepi pantai. Mereka berdua bisa melihat luasnya lautan dengan ombak yang landai. Mereka juga menyaksikan  berpuluh orang di bibir pantai dengan kegiatan yang berbeda. Ada yang duduk, ada yang berdiri ada yang berjalan kesana - kemari saja.  Karena hari itu tanggal hari terang bulan mereka semua tampak dengan jelas. 

“Kemana kita mau pergi Romi ?” Tanya Ustadz Zain.

“He he he … Malam ini kita menikmati indahnya terang bulan dulu ustadz. Kita jalan – jalan dulu melihat – lihat kawan – kawan yang sedang mancing di tepi pantai itu. Nanti, malam sedikit larut kita ketempat dimana aku biasa uzlah ustadz.” Jawab Romi.

“Ooo … Luar biasa, indahnya pemandangan samudera luas malam ini. Sangat indah purnama di tepi pantai yang dihiasi dengan ombak air lautan dan para pengail ikan. Tetapi malam  ini aku tidak selera sama sekali melihat keindahan purnama dipantai ini. Aku tidak selera melihat semua keindahan itu. Aku lebih suka melihat dimana tempat belajarmu setiap malam. Bagiku melihat tempat belajarmu setiap malam adalah suatu keindahan dan kenikmatan tersendiri. Atau memang  kamu sengaja mengulur waktu sambil mencari tempat yang pas ?”

“Sabar ustadz ! Bukankah sabar itu menjadi kekasih Alloh ?”

“Betul demikian. Tetapi dalam hal ini lebih cepat lebih baik Romi. Karena waktuku tidak cukup banyak. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum fajar tiba Romi.”

“Kalau begitu baiklah. Ustadz Zain tahu kan bangunan disebelah timur itu ? Disanalah aku setiap malam singgah, belajar dan tidur sambil duduk sampai fajar tiba. Apakah sekarang ustadz sudah percaya terhadap keteranganku ?”

“Sebelum melihat tanda – tanda yang nyata dari bekas – bekas belajarmu aku belum percaya. Karena bisa juga kamu hanya sekedar menunjuk suatau tempat yang kira – kira pantas untuk tempat belajarmu.”
“Ooo … Jadi ustadz belum percaya ?”
_________________________
Insyaalloh bersambung

2 komentar:

  1. Novelnya bagus. Bikin novel saja ! Aku tunggu crita selanjutnya

    BalasHapus

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!