Senin, 09 April 2012

KASIH TAK SAMPAI. 4. Preman Yang Baik Hati (bag. 21)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ   

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang "


Beberapa saat Tiara masih berdiri  memandang kearah hilangnya bis. Ia masih mengharapkan bisa melihat bis yang ditumpangi Romi. Tapi harapannya hama. Ia baru sadar dari lamunan indah itu ketika ditegur oleh pak polisi yang sedang keluar untuk melihat suasana.

“Masih disini ? Menunggu siapa ?” Tegur pak polisi.

Teguran pak polisi itu membuat Tiara terkejut. Ia menoleh kearah pak polisi.

“Hemmm … Tidak… tidak pak polisi.” Jawab Tiara gugup.


“Dimana suamimu ?”

“Dia pulang duluan.”

“Ooo….  Kenapa tidak pulang bersama saja ?”

“Hemmm … Belum waktunya.”

“Belum waktunya ? Apa maksudnya ?”

Tiara tidak menjawabnya. Ia hanya bergegas meninggalkan tempat itu. Ia menuju tempat penitipan motor. Kemudian ia pulang dengan hati yang hampa. Sepanjang perjalanan ia hanya melamun tentang Romi. Beberapa kali ia hampir menabrak kendaraan yang ada didepannya. Dan sering pula berserempetan dengan kendaraan yang ada dikiri dan kanannya. Untung saja tidak jatuh.

Sampai di dalam bis Romi mencari tempat duduk yang masih kosong. Namun ia tidak mendapatkan tempat duduk yang masih  kosong. Maka ia berdiri ditengah – tengah bis.

Setelah bis berjalan ia terserang rasa kantuk. Beberapa kali ia mau terjatuh. 

Ketika kondektur mulai memungut karcis penumpang, Romi ditunjukkan sebuah tempat duduk yang masih  kosong oleh kondektur. Bangku disebelah deretan kiri tengah. Romi berjalan menuju tempat duduk yang kosong itu. Sampai ditempat duduk yang kosong itu Romi tidak jadi duduk. Ia melihat disebelahnya ada wanita muda berusia sebaya dirinya. 

Romi memandang sepintas terhadap  wanita tersebut. Mulai dari wajahnya sampai keujung kakinya. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis berwarna merah. Bulu matanya besar – besar lentik membalik. Rambutnya panjang terurai menjuntai kebahunya. Wanita tersebut tidak kalah cantik dibanding Tiara.

Romi tidak mau duduk disebelah wanita tersebut. Ia takut terjadi seperti apa yang baru saja terjadi. Peristiwa yang menyebabkan dirinya dikeroyok oleh banyak orang diterminal. Ia juga malu duduk disebelah wanita cantik tersebut. Karena wajahnya yang penyot – penyot. 

Kondektur memaksa menyuruh Romi untuk duduk juga. Dengan alasan untuk memudahkan menghitung dan memudahkan gerak penumpang yang akan naik lagi. Apalagi hari itu Sabtu malam Minggu. Penumpang mesti akan berjejal. 

Karena dipaksa oleh kondektur untuk duduk, maka Romi duduk pula disebelah wanita muda tersebut.
Wanita muda itu memandang wajah Romi selayang saja. Wanita itu tahu bahwa muka Romi bagaikan hantu. Penuh benjolan dan lecet – lecet. Wanita itu menyangka Romi adalah orang jahat. Setelah memandang selayang itu wanita cantik tersebut membuang pandangannya. Sepertinya wanita itu tidak suka kalau Romi duduk disebelahnya. Dengan menggeser keluar lututnya wainta itu mempersilahkan Romi untuk masuk dan duduk di tepi dinding bis. 

Romi mengetahui bahwa wanita tersebut tidak suka jika dirinya duduk disebelahnya. Maka Romi berusaha melintasi lutut wanita itu untuk masuk ketempat duduk paling kiri dengan hati – hati dan permisi lebih dulu. Sampai ditempat duduk paling kiri ia duduk dengan baik dan menaruh tas bodolnya dibawah tempat duduk.
Romi mengatur duduknya dengan baik agar tidak menimbulkan amarah wanita tersebut. Ia duduk menempel dinding bis dan ia mengatur posisi untuk tidur. Ia meraih korden bis sebagai alas kepalanya didinding bis. Tidak lama kemudian ia tertidur pulas. 

Romi terbangun ketika dibangunkan paksa oleh kondektur. Ia setengah terkejut ketika ditanya dan dipungut karcis.

“Turun mana mas ?” Tanya kondektur kepada Romi.

“Apa sudah sampai kok turun ?” Jawab Romi agak sedikit bingung.

“Kamu mau turun dimana ?” Tanya kondektur yang kedua kali.

“Ooo … Turun di Tambak Boyo pak.” Jawab Romi.

Kondektur memberikan karcis untuk dibayar. Romi merogoh saku belakang celananya untuk mengambil dompet. Ia membuka dompet itu dan mengambil uang untuk membayar karcis. Karena masih sangat ngantuk, Romi menyimpan dompet itu asal – asalan saja. Ia memasukkan dompet itu disaku depan samping kanan. Padahal saku depan samping kanan itu sangat dangkal. Rawan jatuh dompetnya.

Wanita cantik yang duduk disebelah kanan Romi itu mendengar bahwa Romi turun di Tambak Boyo. Wanita itu sendiri turun di Sobontoro. Sobontoro sebuah desa sebelah timur Kecamatan Tambak Boyo. Desa itu dipinggir jalan raya.

Wanita itu bergumam “pemuda jelek, pakaiannya kotor, dan wajahnya penuh benjolan dan lecet, baunya apek, jangan – jangan ia penjahat yang baru saja dihajar orang.”

Bis melaju tidak begitu kencang karena hujan belum reda. Bahkan masih lebat. Di berbagai badan jalan tergenang air. Demikian juga mobil – mobil yang lainpun berjalan pelan pula. Tetapi setelah sampai dijalan yang tidak tergenang air,  bis tancap gas. Karena ingin mengejar waktu.

Ketika bis berjalan cepat dan berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan para penumpang terayun kekiri dan kekanan. Demikian juga Romi yang lagi tidur pulas. Kepalanya terlempar kekiri dan kekanan. Ketika terlempar kekanan membentur bahu dan dada wanita yang duduk disebelah kanannya. Dan ketika terlempar kekiri membentur dinding bis. Ketika telempar kekanan segera didorong dengan kuat kekiri oleh wanita yang duduk disebelahnya. Sehingga kepala Romi itu membentur dinding bis dengan kuat. Dan Romipun terbangun. Begitu sepanjang perjalan. 

Wanita itu merasa terganggu. Ia jengkel terhadap Romi. Sepanjang perjalanan dibikin tidak enjoy oleh kepala Romi. Sudah puluhan kali kepala Romi membentur bahu dan dadanya. Ia benar – benar jengkel. Ia ingin pindah tempat duduk. Tetapi tidak mungkin karena penumpang bis sangat penuh. Tempat duduk penuh dan di lorong bispun penuh pula dengan penumpang yang berdiri. 
_____________________
Insyaalloh bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!