Rabu, 11 April 2012

KASIH TAK SAMPAI. 4. Preman Yang Baik Hati (bag. 25)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ   

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang "


Sopir itu terkejut ketika Romi menyebutkan kalau dirinya adalah putra Kyai Roziq. Ia turun dari tempat duduknya. Ia pergi mendekati Romi sambil berkata.

“Maaf gus ! Silahkan naik lagi ! Akan aku antar sampai rumah gus. Kenalkan namaku Edy ! Aku salah seoarng anggota jamaah pengajian abahmu gus. Tapi kenapa wajahmu bengkak – bengkak.” Jelas sopir mobil itu.


“Tidak usah mas. Aku turun disini saja. Biarlah aku nanti mencari kawanku yang berdomisili disekitar  kantor kecamatan ini. Aku akan minta antar olehnya besuk pagi saja. Ini sudah terlalu malam kalau pulang kerumah. Mau tidur diasrama juga tidak enak sama para santri mas. Sedangkan wajahku lebam – lebam ini karena dikeroyok orang banyak di terminal Bungurasih. Aku di anggap pencopet.”

“Ooo …. Jadi gus Romi di hajar diterminal ? Kalau begitu ini ada uang sedikit. Bawalah untuk makan malam dan sarapan besuk pagi.” Kata sopir.

“Maaf pak sopir ! Tidak usah. Aku masih punya simpanan kok. Matur nuwun saja pak sopir. Uang pak sopir buat jajan anak – anak pak sopir saja.” 

“Simpanan apa ? Simpanan lapar, lelah dan kedinginan kan ?” 

“Aku masih mempunyai simpanan. Simpanan hati nurani. Walaupun tadi aku berlagak jadi preman memaksa mobilmu untuk berhenti tapi aku tidak meminta apa – apa. Aku menghadang kamu hanya karena terpaksa. Aku melakukan itu hanya ingin segera sampai dirumah. Besuk pagi ingin bisa pergi ke Terminal Tuban, bisa membayar hutangku ke penjual nasi diterminal Tuban tadi.”

“Ooo… Gus Romi punya hutang di warung penjuang nasi terminal Tuban ? Biarlah besuk aku yang membayar hutang Gus Romi.” Pinta Mas Edy.

“Tidak usah. Aku sudah merasa berdosa dengan menghadang mobil kang Edy. Maka aku tidak ingin menambah kesusahan kang Edy. Apalagi menyusahkan dalam hal material.”
“He he he …. Dasar preman. Preman yang baik hati.” 

Romi tidak menimpali seloroh pak sopir. Ia nglenyor pergi setelah jabat tangan dengan sopir pick up tersebut. Ia menuju rumah salah seorang kawannya yang ada disekitar kecamatan Tambak Boyo Kabupaten Tuban.

Sopir pick up itu memacu mobilnya lagi. Melaju kearah barat dengan kecepatan sedang menuju ke Desa Bulu.  

Malam semakin larut. Tetes – tetes air hujan masih juga jatuh kebumi. Angin laut berhembus pelan. Menebarkan hawa dingin, menjadi semakin dingin. Kota Kecamatan Tambak Boyo sepi dan semakin sepi. Bagaikan kota mati. ***
__________________________
Insyaalloh besambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!