Selasa, 17 April 2012

KISAH HIDUP IMAM SYAFII (150-204)

1. Kota Kelahiran Dan Nasabnya Imam Syafii dilahirkan dighaza, palestina, tahun 150 (767 M). ibu beliau membawanya kemakkah ketika berumur 10 tahun. Nama Imam Syafii adalah Abu Abdullah Muhammad Bin Iddris Bin Abbas Bin Utsman Bin Syafii Bin Saib Bin Ubaid Bin Abdul Yazid Bin Hasyim Bin Muthalib Bin Abdi Manaf. Beliau berasal dari banmgsa arab suku Qurays. Ibu Imam Syafii adalah wanita dari Azad bukan dari qurays, beliau bernama Fatimah Binti Abdullah Al Azadiyah.

Imam Syafii hidup dalam kemiskinan sehingga ketika menuntut ilmu beliau terpaksa mengumpulkan potongan-potongan keramik, kulit, pelepah korma dan tulang-tulang unta untuk menulis.
Imam Syafii adalah imam ketiga dari empat imam madzhab menurut urutan kelahirannya. Dia adalah “Nashirul Hadits”, pembela hadits dan “Mujaddid”, pembaharu abad kedua hijriyah. Imam Ahmad berkata, “Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa setiap seratus tahun Allah mengutus pada umat ini seseorang yang memperbaharui urusan agama. Terbukti Umar Bin Abdul Aziz pada abad pertama, dan aku berharap Syafii menjadi mujaddid diabad yang lain.
  1. Pertumbuhan Dan Perkembangan Dalam Menuntut Ilmu
Beliau menghafal quran dan berbagai hadits dengan sangat cepat dan juga kaidah bahasa arab. Beliau hidup bersama suku Hudzail sekitar 10 tahun. Sebelumnya imam syafii cenderung terhadap saatra dan syair dan belajar bahasa arab akan tetapi ia setelah itu menekuni fikih. Imam malik terus menuntut ilmu hingga beliau bertemu dengan imam malik dimadinah, tapi sebelumnya beliau membaca kitab muwattha’ dan menghafal sebagiannya. Ketika beliau bertemu dengan Imam Malik, maka Imam Malik berkata, “Sesungguhnya Allah swt telah menaruh cahaya dalam hatimu maka jangan padamkan dengan perbuatan maksiat.
  1. Pekerjaan Imam Syafii
Pekerjaan imam syafii adalah belajar, membaca, menulis dan menghafal serta mempelajari ilmu-ilmu lainnya, sehingga beliau berkata, “Siapa yang belajar alquran maka akan tinggi nilanya. Siapa yang menulis hadits maka akan kuat argumentasinya. Siapa yang mendalami fikih maka akan mulia derajatnya. Siapa yang mendalami bahasa akan halus perangainya. Siapa yang mempelajari ilmu eksakta akan banyak kreativitasnya dan siapa yang tidak menjaga diri maka tidak akan manfaat ilmunya.
  1. Guru-guru Imam Syafii
Imam Syafii berguru kepada Syaikh Muslim Bin Khalid Az Zanji dan beberapa Imam Makkah. Ketika berumur 13 tahun beliau pergi kemadinah belajar kepada Imam Malik. Diantara guru-guru beliau adalah:
1.    Di Makkah; Muslim Bin Khalid Az Zanji, Sufyan Bin Uyainah, Sa’id Bin Salim Al Daddah, Dawud Bin Abdurrahman Al Athar, Dan Abdul Hamid Bin Abdul Aziz Bin Abi Dawud.
2.    Di Madinah; Imam Malik Bin Anas, Ibrahim Bin Saad Al Anshary, Abdul Aziz Bin Muhammad Al Darawardi, Ibrahi Bin Yahya Al Asami, Muhammad Bin Said Bin Abi Fudaik Dan Abdullah Bin Nafi’  Al Shani.
3.    Di Yaman; Muttharrif Bin Mazin, Hisyam Bin Yusuf, Hakim Shan’a, Umar Bin Abi Maslamah Al Auza’i Dan Yahya Hasan.
4.    Di Irak; Muhammad Bin Al Hasan, Waki’ Bin Jarrah Al Kufi, Abu Usamah Hammad Bin Usamahal Kufi, Ismail Bin Athiyah Al Bashry Dan Abdul Wahhab Bin Abdul Majid Al Bashri.
  1. Murid-murid Imam Syafii
Murid-murid Imam Syafii sangat banyak, diantaranya;
1.    Di Makkah; Abu Bakar Al Humaidi, Ibrahim Bin Muhammad Al Abbas, Abu Bakar Muhammad Bin Idris Dan Musa Bin Abi Al Jarrud.
2.    Di Baghdad; Al Hasan Al Shabah Al Za’farani, Al Husain Bin Ali Al Bashri,
3.    Di Mesir; Harmalah Bin Yahya, Yusuf Bin Yahya Al Buwaili, Ismail Bin Yahya Al Muzani, Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Hakam Dan Ar Rabi’ Bin Sulaiman Al Jiizi.
4.    Murid Imam Syafii yang paling brilian  adalah Imam Ahmad Bin Hanbal
Imam Syafii tinggal dimakkah selama 9 tahun, beliau mampu mendalami pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan al quran, sunnah, ijtihad, dasar pengambilan hukum, serta qawaid al kulliyah dan kaidah umum fikih.
Pada tahun 195 H, ia kembali dari makkah lalu menuju baghdad. Kemudian imam syafii mengarang kitab “ar risalah” yang menjadi dasar ilmu ushul fikih.Dan imam syafii kembali meneruskan mengarang kitab ar risalah setelah pergi kemesir pada tahun 200 H.
Beliau tinggal dimesir selama 4 tahun lebih dan telah mengarang beberapa kitab. Beliau meletakkan madzhabnya yang baru (qaul al jadid) yang berlaku dimesir karena adanya kondisi dan adat disana serta mengarang kitab Al Umm.
  1. Fikih Syafii
Masa Imam Syafii merupakan masa cemerlangnya fikih dalam sejarah hukum islam hingga beliau dijuluki sebagai “peletak dasar ushul fikih”. Imam Syafii berkata, “Bumi mana yang mengucilkanku, langit yang meneduhiku, jika ada hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah saw dan aku tidak mengatakan ya dengan menundukkan kepala dan kedua mata? Beliau berkata, “Apapun yang aku katakan atau aku jadikan dasar berbeda dengan apa yang bersumber dari rasulullah, apa yang rasulullah sabdakan adalah itu pendapatku.” Beliau telah menghafal kitab al muwattha’ dalam waktu 9 hari.
Karakteristik fikih dan pengetahuan syafii yang menonjol ialah bahwa beliau telah meletakkan kaidah-kaidah ilmu ushul fikih. Karena itu, Fakhruddin Ar Razi berkata, “Saya tahu bahwa Imam Syafii identik dengan ilmu ushul fikih. Sebagaimana Aristoteles identik dengan ilmu logika dan Khalil Bin Ahmad identik dengan ilmu arrudh (ilmu tentang timbangan syair).
  1. Kitab-kitab Imam Syafii
Imam Syafii banyak mengarang kitab. Diceritakan beliau telah mengarang 113 kitab dalam bidang fikih, tafsir, ushul fikih, sastra dll. Yakut menyebutkan dalam kitabnya “Mu’jam Al Udaba” Juz 17, puluhan kitab Imam Syafii. Yang dimaksud adalah beberapa bab tentang masalah fikih. Diantara kitabnya yang membahas tentang ushul fikih adalah ar risalah. Kitab ini dari permintaan dari Abdurrahman Bin Mahdi tokoh hadits pada masanya.
Al Muzani berkata, “saya telah membaca kitab Ar Risalah sebanyak 500 kali.” Katanya juga, saya mendalami kitab ar risalah selama 50 tahun setiap yang aku pelajari selama itu selalu memberikan pelajaran baru yang belum aku ketahui.
Diantara kitabnya yang terkenal adalah Al Umm. Ketika beliau di Irak beliau juga mengarang kitab Al Qadim yang bernama Al Hujjah. Ini diceritakan oleh 4 ulama besar yaitu; Imam Ahmad Bin Hanbal, Ibnu Tsaur, Al Za’farani Dan Al Karabisi.
Kitab Imam Syafii yang lain adalah Al Washaya Al Kabirah, Ikhtilaf Ahli Itak, Wasyiyah As Syafii, Jami’ul Ilmi, Ibthalu Istihsan, Jami’ul Muzani Al Kabir, Jamiul Muzani Ash Shaghir, L Amali, Mukhtashar Ar Rabi’ Wal Buwaity, Al Imla’ dan sebagainya. Sebagian kitab yang lain beliau mendiktikan kepada orang lain.
  1. Nasehat Imam Syafii
1.    Belajarlah anda sebelum memegang jabatan, karena jika sudah memegang jabatan maka tak ada lagi kesempatan untuk belajar.
2.    Ilmu utu lebih utama dari pada shalat sunnah
3.    Persaudaraan sejati adalah yang menerima kekurangan saudaranya, menutupi kelemahannya dan memaafkan kesalahannya.
4.    Siapa yang ingin menggapai dunia maka gapailah dengan ilmu, siapa yang ingin menggapai akhirat maka gapailah juga dengan ilmu
5.    Belumlah lengkap, jika seseorang mencari ilmu tidak mengalami kefakiran. Sungguh saya sendiri susah mencari kertas.
6.    Kelemahan ulama adalah kurang berusaha. Kelemahan orang bodoh adalah tidak mau bersusah payah.
7.    Kewibawaan seseorang terletak pada kesungguhannya
  1. Imam Syafii Dan Bahasa Arab
Bahasa tempat tinggal dan masanya immam syafii adalah arab. Beliau keturunan arab qurays, bahasanya sangat fasih sejak pertumbuhannya menjadi dewasa. Beliau terus sibuk mempelajari bahasa arab selama 20 tahun, sehingga menjadi imam yang fasih bahasa arab. Ibnu hisyam, imam nahwu dimesir pada masanya memandang imam syafii sebagai hujjah (referensi) dalam bahasa dan nahwu. Begitu juga abu ubaid, ayub bin suwaid dan abu utsman al muzini. Ibnu hisyam pernah meragukan imam syafii dalam hal ini, tapi kemudian menyelidikinya dan mengakuinya.
  1. Syair-syair Imam Syafii
Imam Syafii adalah penyair yang ungkapan-ungkapan syairnya sangat bagus, walaupun beliau tidak mencurahkan perhatian dan mendalaminya. Sebab beliau disibukkan oleh kajian fikih dan pengetahuan yang lain. Al mubarrid berkata, “Imam syafii adalah penyair dan sastrawan yang paling bagus dan terkenal bacaannya. Diantara syairnya adalah:
Ketika hatiku keras dan madzhab (jalan-jalan) ku terus sempit
Aku jadikan harapan maafMu sebagai penyerahan
Dosa-dosaku amatlah besar, tetapi jika aku bandingkan dengan maafMu, ya Tuhanku kemaafanMulah yang lebih besar
Engkau zat maha pengampun yang selalu memaafkan
Engkau maha mulia mengampuni dengan rahmat dan kemulianMu
Jika engkau tidak izinkan, iblis tidak akan mampu menggada hamba
Bagaimanakah hambaMu yang suci bernama adam dapat tergoda?
  1. Pandangan Politik Imam Syafii
Imam Syafii memandang bahwa imamah adalah suatu kelaziman. Ini berlaku pada suku qurays. Didalam kitabnya al umm beliau banyak meriwayatkan beberapa hadits tentang kemuliaan/keutamaan suku qurays. Beliau berpendapat bahwa khalifah itu harus lewat baiat(pernyataan). Kecuasli dala keadaan dharurat, maka boleh tanpa baiat. Jika dengan kekuatanya seseorang mampu mengalahkan rakyat sepat (setuju) maka imamh diperbolehkan (dianggap sah).
  1. Komentar Ulama Salaf Terhadap Imam Syafii
1.    Abu Bakir Al Humaidi berkata, “Imam Syafii adalah pemimpin ahli fikih”.
2.    Ahmad Bin Hanbal, “Imam Syafii adalah filusuf dalam 4 hal; bahasa, perbedaan manusia, spiritual, dan fikih.”
3.    Sufyan Atsaury berkata, “Imam Syafii adalah paling utama dizamannya.”
4.    Yahya Bin Said Al Qatthan berkata, “Saya tak pernah melihat orang yang lebih pandai dan ahli dalam fikih selain dia.”
5.    Ibnu Uyainah ketika ditanya tentang tafsir dan mintai fatwanya, maka ia berkata, “Kalian tanyakan kepada Imam Syafii.”
  1. Kritikan Imam Syafii
Seorang yang mulia tidak luput dari kritikan, disamping juga yang banyak memujinya. Begitu juga imam syafii tak lepas dari keitika dari para peneliti. Seperti, sebagian mereka mengatakan bahwa imam syafii bukanlah mujaddid karena dia tidak bisa mengeliminasi fanatisme yang terjadi pada masanya. Ia hanyalah membatasi imamah pada suku qurays, dia juga berfatwa bahwa imamh juga bisa berdiri tanpa baiat dalam keadaan  dharurat.
  1. Kepribadian Imam Syafii
Imam Syafii sangat rupawan, tinggi badannya, panjang lehernya, kulit sawo matang, merdu suaranya dan bagus penyampaiannya. Orang-orang menangis dengan bacaan al qurannya. Sederhana dalam pakaiannya, memakai cincin dijari kirinya yang bertuliskan “cukuplah Allah percaya pada Muhammad bin idris”. Beliau mengerti tentang kedokteran dan mahir dalam memanah.
Beliau cepat berkonsentrasi, kuat ingatan, tajam pikiran, luas akalnya. Basyir al murisy berkata, “Orang ini akalnya setengah dari akal penduduk dunia”. Beliau berpaling dari mendalami masalah-masalah kulliyah (umum) lebih besar daripada masalah-masalah juziyah (parsial).
  1. Kedermawanan Imam Syafii
Beliau datang ke shan’a menuju mekkah dengan membawa 10.000 dinar. Maka ia tidak menyisakan sebelum membagi-bagikan semuanya. Pernah terjadi ketika beliau dimesir mendapatkan beberapa pakaian dan perhiasan, beliau membagi-bagikan kepada penduduk setempat.
Imam syafii sangat tekun beribadah dan tahajjud dan cukuplah menjadi bukti bahwa kita mengetahui beliau membagi malamnya dengan 3 bagian. Sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat dan tahajjud dan yang sepertiganya lagi untuk tidur.
  1. Sakit Dan Wafatnya Imam Syafii
Yakut menyebutkan dalam kitabnya mu’jam al udaba, bahwa sebab imam syafii sakit diantaranya adalah ketika murid imam malik bin anas yaitu fityan sedang berdebat dengan imam syafii. Dalam perdebatan itu imam syafii menang. Fityan lalu mencaci maki imam syafii.
Hal ini didengar oleh gubernur mesir (as sirri bin al hakam al balkhi). Ia memerintahkan untuk memukuli fityan dan mencelanya. Namun sebagian orang bodoh fanatik terhadap fityan, lalu mereka menghadiri majlis imam syafii dan kemudian memukulinya hingga beliau sakit dan mengakibatkan beliau wafat. Sebab lain adalah imam syafii menderita sakit wasir yang berulang kali dan mengakibatkan seringnya keluar darah sehingga beliau meninggal dunia.
Beliau wafat dimesir pada kamis malam setelah shalat maghrib diakhir bulan rajab tahun 204 H. beliau berumur 54 tahun dan beliau wafat disamping abdullah bin al hakam, seperti yang pernah beliau wasiatkan. Beliau dimakamkan pada hari jumat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!