Kamis, 05 April 2012

KASIH TAK SAMPAI. 3. GADIS ANGKER SANG PENODONG (bag. 16)


Saat itu Tiara sangat geram terhadap tingkah Romi. Pemuda yang lugu, dengan pakaian yang terlalu lusuh itu tidak mau menerima perasaan hatinya. Padahal penampilan Romi tidak lebih gaya dibanding dengan kawan – kawan kuliahnya. Romi hanyalah Romi. Kaos yang dipakainya sudah terlalu kusam, celananya lusuh, sandal carvilnya sudah terlalu usang untuk dipakai dilingkungan kota Metropolitan Surabaya. Tetapi Romi sanggup menolak perasaan hati Tiara.


Selama ini Tiara selalu yakin bahwa setiap lelaki yang didekatinya selalu berhasil jatuh dalam rayuannya. Bahkan kawan – kawan kuliah di kampusnya selalu mengejar – negejar dirinya tanpa harus dirayunya. Sering juga ia risih terhadap perlakuan beberapa teman mahasiswa terhadap dirinya.  Karena mereka terlalu berani saja menggoda dirinya.

Tiara tiba – tiba merasa geram dengan Romi si santri yang menenteng tas usang dipundaknya itu. Ia merasa dilecehkannya. Ia ingin memukulnya. Ia ingin membalas perlakuan Romi terhadap dirinya itu dengan memakai tangan orang lain. Ia ingin berteriak keras “copet” agar Romi dikejar – kejar orang di terminal dan dihajarnya. Tetapi Tiara mengakui bahwa hatinya tidak bisa melakukan itu. Karena sebagaian hatinya telah dititipkan dihati Romi. Kalau Romi sakit tentu Tiara ikut sakit juga.

Tiba – tiba Romi meloncat di kehujanan itu. Ia memburu bis yang baru saja datang. Bis jurusan Jakarta. Ia ingin segera masuk kedalam bis itu dan terbebas dari rayuan Tiara. 

Tetapi sial bagi Romi. Ia tidak tahu kalau tas usangnya bagian belakang sudah dipegang erat oleh Tiara sejak tadi. Ia terjatuh digenangan air. Maka seluruh pakaiannya basah kuyup masuk ke genangan air hujan. Bersamaan dengan itu orang – orang disekitarnya tidak menolong. Mereka beramai – ramai mendatangi Romi. Mereka menganggap bahwa romi adalah pencopet. Maka mereka menghajar  Romi. Kepala, perut, punggung Romi sempat mendapatkan pukulan dan tendangan dari mereka beberapa kali.

Merasa dirinya dikeroyok, Romi berusaha menyelamatkan diri. Tanpa menyadari bahwa semua pakaiannya basah dan tasnya tertinggal, ia segera bangkit dan lari menuju sebuah bis yang baru saja datang. Bis jurusan Jakarta. Ia segera masuk kedalam bis itu. Baginya keselamatan adalah nomer satu pada saat yang demikian.
Usaha Romi ini sia – sia pula. Karena mereka mengejarnya pula masuk kedalam bis. Didalam bis ia kena pukul kepalanya beberapa kali oleh mereka. Romi berusaha kabur dari dalam bis itu. Ia menerobos gerombolan penumpang bis yang sedang keluar melalui pintu belakang dengan loncat. Di depan pintu belakangpun ternyata sudah banyak orang yang menghadangnya. Bahkan ia sempat kena pukul kepalanya. Dan perut dan kakinyapun kena tendang beberapa kali.

Romi berusaha lari meloloskan diri dari kepungan mereka menuju pos polisi unit terminal. Namun sebelum sampai di pos polisi ia terjepit oleh sekian orang pengejarnya. Saat yang terjepit itu ia berhenti berlari. Darah kependekarannya timbul. Semboyan kependekarannya juga timbul “musuh jangan dicari, tapi ketika ada musuh jangan lari. Begitulah semboyan yang ditanamkan oleh guru besar silatnya dulu, KH. Yusuf Rofi’i SH Sepanjang Sidoarjo.” 

“Maaf aku bukan pencopet ! Jagan pukuli aku ! Ayolah bicaralah baik – baik saja di pos polisi sana itu !”
“Hemmm … Kurang ajar, pencopet mengaku bukan pencopet. Pandai pula kamu mengelabuhi kmi. Ayo kita hajar !” Teriak salah seorang diantara mereka yang paling besar diantara mereka.
______________________________
Insyaalloh berambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!