Senin, 02 April 2012

KASIH TAK SAMPAI 2. PIPI HANCUR BERKEPING - KEPING (bag.10)


“Jujur sajalah ! Tidak usah berbelit ! Tentu kamu menyukainya bukan ? Asal tahu saja dia bernama Tiara. Dia sedang kuliah di fakultas hukum, semester 3.”

“Aku katakan jujur saja, bahwa aku mengaguminya. Tapi aku tidak ingin memilikinya.”
“Kenapa ?”

“Banyak hal. Tidak bisa aku uraikan. Takut menyinggung perasaanmu dan perasaannya juga jika suatu ketika ia mendengarkan apa yang aku sampaikan kepadamu.”


“Tidak usah begitu! Katakan saja ! Ini masih siang akhiy. Waktu masih cukup untuk sedikit ngobrol. Di terminal masih banyak bis jurusan ke Jakarta. Jangan khawatir kehabisan bis !”

“Bolehkan aku bertanya sedikit tentangnya? Tapi maaf sebelumnya kalau pertanyaanku tidak berkenan di hatimu  ! Karena ini menyangkut masalah idealisme masing – masing individu.”

“Tanya masalah apa ? Masalah dia ? Tentu boleh saja. Kenapa tidak boleh.”

“Dimana dia sekolah sebelum kuliah di fakultas hukum ? Dia mengaji dimana dan sampai tingkatan apa pengetahuan agama atau ngajinya ? Siapakah ayah dan ibunya ?”

“Hem… Aneh juga pertanyaanmu. Tapi okelah akan aku jawab. Sebelum kuliah ia bersekolah di SMA I Surabaya. Sekolah terfavorit bagi masyarakat Surabaya ini. Ia termasuk murid yang cerdas. Dulu ngaji TPQnya dimasjid sebelah sungai yang diasuh oleh sepupunya. Tapi ia tidak tamat. Kalau pengetahuan agamanya aku tidak bisa mengukur. Tampaknya ia rajin jamaah dengan keluarganya di musholla rumahnya. Ayahnya adalah seorang pengacara. Dan ibunya seorang bidan.”

“Maaf Hasan ! Jujur saja. Kalau benar semacam apa yang kamu sebutkan tentang pendidikan umum dan agamanya, aku bisa menebak. Gadis secantik dia tidak mungkin ia tidak punya pacar. Aku yakin sejak sekolah SMA ia mesti sudah mempunyai pacar. Bahkan mungkin tidak hanya satu.”

“Lha yalah. Tentu ia punya pacar. Bahkan ketika masih sekolah SMA dulu, ia menjadi rebutan teman – teman sekolahnya. Pemuda di kampung sinipun banyak yang ingin mendapatkan kasih sayangnya. Tetapi entah kenapa, sampai sekarang tampaknya ia belum menentukan pilihan. Aku tahu pemuda yang datang kerumahnya berganti - ganti saja. Itu menunjukkan bahwa pemuda yang menyukainya sangat banyak. Itu bukti bahwa pacarnya tidak hanya satu. Mungkin ia masih menunggu kedatangan sesorang. Seseorang tadi mungkin santri dari daerah Tuban.”

“Siapa pemuda tersebut ?” Tanya Romi heran.

“Dia adalah… Romi….He he he …”

“Hem jangan ngaco kamu ya ! Ingat Hasan ! Gadis seperti Tiara yang keadaannya seperti yang kamu sebutkan mungkin akhlaqnya tidak semulus wajahnya. Mungkin akhlakhnya sudah tercemar. Maka aku tidak tertarik sedikitpun. Abahku akan murka kepadaku kalau aku mengharapkannya. Lagi pula Tiara tidak akan sudi melihat diriku yang hanya santri kampungan ini.”

“Apa maksudmu ?” Tanya Hasan sedikit marah dan terkejut.

“Dari reaksimu terhadap pernyataanku itu, aku tahu bahwa kamulah yang sebenarnya sangat ingin bisa meraih Tiara. Tidak usahlah kamu melemparkan kepadaku. Asal tahu saja, kalau seandainya pipi Tiara berupa agar - agar atau pisang goreng, maka pipinya itu sudah lumat dan berkeping – keping. He he he …”
“Apa maksudmu ?”

“Tadi kamu bercerita bahwa sejak SMA Tiara sudah menjadi rebutan kawan – kawannya. Sekarangpun banyak pemuda yang datang kerumahnya. Mereka ingin mendapatkan kasih sayang Tiara. Kita tahu bahwa pemuda yang berani datang kerumahnya tentu pemuda yang sudah akrab benar dengannya. Pemuda yang berani datang kerumahnya kemungkinan pemuda yang sudah ada hubungan kepentingan diluar kepentingan yang wajar. Pemuda yang sudah akrab itu maaf ya,  kemungkinan besar hidung dan pipi mereka telah pernah berperang dengan hidung dan pipi Tiara. Pernah saling serang – menyerang, saling tembak - menembak, dan saling membombardir antara hidung dan pipi mereka. Padahal mereka bukan suaminya, bukan juga ayahnya, atau mereka bukan mahromya kan? Itu tentu dosa Hasan. He he he … Maaf ya ! Aku hanya canda tapi beneran lho. Jangan tersinggung !” Jawab Romi sambil tersenyum.

Diam – diam Hasan mengepalkan tangannya. Mengatupkan gigi gerahamnya. Ia geram. Ia ingin segera menimpali untaian kalimat Romi yang memojokkan dirinya dan merendahkan Tiara. Ia  tidak terima Tiara direndahkan. Karena ia sangat mencintai Tiara. Tetapi ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk membantah Romi. Ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Romi itu memang benar. Dua anak manusia lain jenis yang saling menyukai dan menyendiri, tanpa mahrom maka ketiganya adalah syetan. Maka apa saja bisa terjadi. Begitu sabda Rosululloh saw.  

“Aku masih ingat petunjuk surat Al – Baqoroh ayat 221 yang artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Sambung Romi.

“Sayang sekali kecantikan wajah Tiara tidak dibungkus dengan pakaian yang islami. Aurotnya dipamerkan untuk menarik para pemuda.  Kalau saja ia mau menghiasi wajahnya yang cantik dengan jilbab, dan membungkus badannya yang ramping dengan pakaian islami maka sempurnalah kecantikannya. Bagaikan bidadari dari syurga. Cantik, anggun dan mempesona. Maka ia sanggup menarik suami dan anak – anaknya kesyurga.  Kalau Tiara seperti yang terakhir ini, mungkin juga aku tertarik untuk mendekatinya. Bahkan mungkin aku akan berlomba dengan siapapun untuk mendapatkan cintanya. Sehingga aku bisa berharap dia adalah bidadariku dalam rumah tanggaku. Dia bisa menjadi tempatku mengadu dikala aku sedih. Dia menjadi penghibur dikala aku lelah. Dia bisa menjadi hakim yang adil dikala aku bimbang. Dia bisa menjadi pendingin ketika hatiku panas. Dia bisa menjadi pengendaliku ketika aku akan melaju kejalur yang salah.  Dia bisa menjadi tempat menitipkan anak – anak dan diriku kapan saja dan dimana saja. Tapi kalau hanya sekedar memamerkan kecantikannya dengan membuka aurotnya, aku tidak sedikitpun tertarik kepadanya. Karena wanita semacam itu akan bisa juga menyeretku dan calon anak – anakku kedalam jurang neraka. Bukankah kecantikan lahir itu hanya sedalam kulit Hasan ? Kata guru bahsa Inggri “the beautiful is but skin deep (kecantikan itu hanya sedalam kulit)” Ingatlah ayat 56 surat Al – Ahzab yang artinya : Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.Imbuh Romi.
______________________________
Insyalloh bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!