Selasa, 03 April 2012

KASIH TAK SAMPAI. 3. GADIS ANGKER SANG PENODONG (bag. 14)


“He he he… Pak sopir ini ada – ada saja. Pak sopir baru tahu sepintas kan ?  Aneh banget. Bisa menilai orang secepat itu. Aku saja belum kenal kok. Kenalnya ya di jalan itu tadi.”

“Tapi kenapa wanita itu menitipkan mas kepadaku?”

“Ah jangan berlagak seperti mak jomblang pak sopir ! Tidak lucu.”

“He he he … Kamu tidak percaya ya ? Ini baca SMS darinya yang baru dikirim kepadaku.”


“Pak sopir ini pandai pula merayu penumpangnya agar berlangganan. Aku salut banget sama pak sopir. Sanggup membuat penumpangnya bisa menikmati perjalanan.”

“Maukah mendengarkan isi SMS darinya ? Biar aku bacakan kalau mau.”

“Pak sopir ini ada – ada saja. SMS dari orang lain untuk orang lain pula mau ditunjukkan kepadaku. Ya jelas tidak nyambung sama sekalilah pak.”

“Percaya atau tidak tentu pada saatnya kamu akan percaya kepadaku.”

“Mana mungkin aku percaya sama pak sopir. Bagaimana dia tahu nomer HP  pak sopir ?”

“Sudah aku baca dulu SMS darinya. Nanti akan aku tunjukan bagaimana dia bisa tahu nomer HPku.”

“Oke … Menarik juga rayuanmu pak sopir. Sekarang bacalah SMS darinya. Aku jadi penasaran juga !”

“Ini bunyi SMSnya “Pak Sopir hati – hati ya ! Jaga baik – baik tunanganku ! Antarkan sampai terminal dan layani dengan baik”.

“He he he … Pandai pula pak sopir ini membual ya. Coba aku yang baca.”

Sopir taxi itu memberikan HPnya kepada Romi. Agar Romi membacanya sendiri SMS dari seseorang yang katanya dari Tiara.

Romi membaca SMS yang bunyinya persis seperti apa yang dibacakan sopir taxi itu. Ia melihat tanggal dan jam pengiriman. Ternyata SMS itu baru saja dikirim. Ia bingung, penasaran terhadap bunyi SMS itu. Ia mengerutkan keningkan, berfikir untuk mencari tahu tentang SMS itu. Ia berfikir mungkin sopir itu membawa dua HP. Lantas sopir itu SMS dari HP yang disembunyikan kepada HP yang dia pegang. Sehingga seakan – akan SMS itu dari seseorang yang ada dijauh sana.

Atau sopir sudah biasa main sandiwara. Ia SMS temannya agar temannya SMS pada pak sopir yang isinya sesuai dengan permintaan pak sopir. Tujuannya agar pak sopir dapat langganan.

Dalam kebingungan dan diliputi rasa penasaran itu Romi menemukan cara untuk bisa mencari tahu teka – teki yang sedang dihadapi.

“Pak sopir, bolehkan aku minta pulsanya sedikit ? Nanti akan aku ganti pulsa itu.” Pinta Romi.

“Boleh – boleh saja. Mau SMS kemana ?” Jawab sopir taxi itu.

“Mau SMS balik ke nomor yang SMS ini.”

“Ooo…. Silahkan saja. Tapi hanya sekali saja ya ?”

“Kenapa ?

 “Pulsanya mau habis.”

“Baiklah.”

Belum lagi Romi SMS balik kepada nomor yang mengirim SMS HP itu, HP tersebut berdering. Maka buru – buru pak sopir taxi itu meminta kembali HPnya. Kemudian sopir membuka HP tersebut.

“Sore pak sopir ! Sudah sampai mana sekarang ? Sudah sampai terminal apa belum ?” Suara dari pemanggil melalui HP itu.

“Sudah sampai non. Ini aku mau mengantarnya kemasjid. Ia mau sholat ashar dulu katanya.” Jawab sopir.

“Oke … Trima kasih pak sopir.” 

“Oke … sama – sama.” Jawab pak sopir kepada penilpun tersebut.

Selesai berbicara di tilpun itu sopir taxi tersebut memandang kearah Romi duduk. Beberapa saat kemudian bertanya kepada Romi.

“Mas kenal apa tidak suara wanita yang baru saja menelpunku ?” Tanya pak sopir kepada Romi.

“Aku tidak kenal sama sekali suara wanita itu.” Jawab Romi.

“Wanita yang menilpun ini tadi adalah wanita yang ngobrol dengan mas  di perumahan tadi.”

“Bagaimana mungkin dia tahu nomor pak sopir? Apakah dia langganan tetap pak sopir ?” 

“Bukan. Dia bukan langgananku. Asal tahu saja mas. Mobil taxi ini kan ada nomor urut bodi dari perusahaan taxi ini. Dan ada pula nomor tilpun kantor. Tampaknya wanita cantik tersebut mencatat nomor tilpun kantor. Setelah itu dia tilpun kantor untuk meminta nomor HP sopir taxi nomor bodi taxi ini. Maka ketika dia SMS kepada nomor HP yang diberikan oleh kantor, tersambunglah denganku. Begitulah caranya dia bisa tahu nomor HPku mas.”

“Ooo … ya… ya … Sudahlah pak sopir, mundur saja ke dekat masjid. Ini sudah terdengar suara adzan ashar. Aku mau segera ikut jama’ah sholat ashar.”

“Ok.”

Taxi itu mundur mendekat ke jalan kecil sebelah selatan masjid. Hujan masih sangat deras. Maka ketika pintu taxi dibuka beberapa anak kecil mendekat dan menawarkan jasa payungnya. Romi menumpang berteduh di payung seorang anak kecil sampai dimasjid. Setelah sampai masjid ia menyodorkan uang dua ribuan kepada anak kecil penjual jasa payung tersebut. Dia menolak menerima kembalian uang seribuan dari anak kecil itu.
_____________________________
Insyaalloh bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca lebih baik memberikan komentar......!!!